Monday, December 14, 2015

Jemari kecil penjual Tisue.

Hari minggu kemarin, aku menuju stasiun kereta yang dulu tempat ku biasa mengojek payung. Keluar dari stasiun mata ku melihat seorang anak laki laki duduk dengan baju kemeja merah kotak kotak membawa sebuah kantong plastik, masih kecil, sekitar 9 tahun-an mungkin. ia berbicara "tisue tisue" dengan suara lemasnya  ketika aku lewat dihadapannya. aku menoleh sejenak. melanjutkan beberapa langkah lalu mundur kembali. rasanya hati miris mendengar nada nya saat menawarkan, ada beban atau rasa lelah pada suaranya, terlihat sekali bukan dibuat buat.
"berapa?" ku tanya sambil menatap wajah lelahnya.
"satu 3500, dua 5000". ucapnya. serasa ingin duduk disampingnya lalu ngobrol banyak dengannya. ia berkata seakan memang ia sudah lelah, seakan banyak beban dikepalanya. seakan ia terpaksa melakukannya padahal ia tidak ingin. seperti ada hantaman dikepalaku, melihat kini keadaan ku yang jauh lebih baik darinya, namun masih merasa kurang dan terus mengeluh.
Share:

Tuesday, May 12, 2015

Stay ...

Setelah melihat lihat sekeliling bartender yang sedang berlalu lalang,  Anggar berjalan menuju gadis gadis yang sedang asyik menari mengikuti alunan suara yang dj mainkan. Gadis gadis malam itu lansung menyapanya dan mendekati Anggar dengan agresif seoalah memang sedang menunggu kedatangannya sejak tadi.
“Virra mana?” Tanya Anggar kepada salah satu gadis disitu.
“ngapain nyari Virra? Mendingan juga gue”
“lo apain Virra?!” bentak Anggar, gadis yang biasa di sapa Sella itu kaget dan mulai kesal.
“kenapa emang hah?! Mau ngapain lo nanyain dia?! Mau lo pake?!” ketus Sella dengan gaya bicara menantang.
Anggar geram, lengannya di naikan dan bersiap untuk menampar Sella, tapi ia urungkan. Anggar langsung pergi dari situ. Ia pun terus mencari cari dimana Virra. Ia mencari disetiap ruangan tapi virra tetap tidak ia temukan. Satu tempat terakhir, Gudang belakang. Saat sampai disana, pintu gudang terkunci.
“Ra?” Tanya nya berharap Virra memang ada di dalam.
“Gar!”
Tepat sekali. Anggar menyiapkan ancang ancang untuk mendobrak pintu gudang setelah menginstruksikan Virra untuk Mundur. Dengan sekali dobrakan pintu gudang itu terbuka, dilihatnya Virra yang sedang bersandar dipojokan gudang dengan wajah kelelahan. Anggar dengan segera mendekat.
“Ra! Siapa yang ngunciin lu disini?’ Tanya Anggar panik. Ia pegang wajah Virra yang sudah terlihat pucat. Virra mungkin sesak nafas karna memang di dalam gudang itu sama sekali tidak ada ruang udara disana. Tubuh Virra basah karna keringat. Wajahnya lemas. Anggar memeluk Virra.
Dan akhirnya, to be continue. Pantengin terus. Gak ada part part an soalnya. Thanks for reading! :*
Share:

Monday, March 9, 2015

Dafa ...

Mentari baru saja terbit dari peraduannya. Saat kebanyakan orang tersenyum pada dunianya seraya bersyukur atas nikmat sang maha pencipta, Dafa malah menutup wajah dan telinganya dengan bantal. Ia muak dengan keadaan rumah setiap pagi. Mungkin setiap saat.“saya kan sudah bilang, jika kamu tidak bisa menafkahi keluargamu, lebih baik kamu pulang kan saya!”Ucap mamahnya Dafa. Kata kata itu sudah sering terdengar darinya sejak papa Dafa mengalami kelumpuhan 2 tahun lalu. Dafa muak. Ingin sekali ia pergi dari rumah yang membuatnya semakin sulit bernafas dan menghilangkan keinginannya untuk tetap hidup. Tapi disini ada Nessa. Adik kecilnya yang sangat ia sayangi. Dafa hanya bisa pasrah dengan hidupnya kini. Dengan semua keadaan yang membuatnya terpuruk.Nessa masuk ke kamar Dafa dan memeluk abang tersayangnya itu seperti ketakutan.“Nessa gak mau dikamar mamah, bang. Nessa takut” ucap gadis kecil berumur 6 tahun itu polos.Dada Dafa sedikit sesak. Ia peluk adik kecilnya itu.“yaudah, Nessa disini dulu. Abang mau bilang kemamah biar mamah gak marah marah lagi.” Ucap Dafa menenangkan. Dafa turun kebawah menemui mamahnya yang masih tak ada hentinya membentak papanya yang sedang tak berdaya diatas tepat tidur.Dilihat sekilas mamanya dengan sinis. Ada sedikit kebencian yang ia lihatkan dimatanya.“mamah kalo mau pergi , pergi aja. Mau pulang semalem apa juga terserah. Gak pulang juga gak papa. Masih pagi mah. Jangan rusak pagi saya sama Nessa.”“liat tuh. Anak kamu aja bilang begitu. Karna apa? Karna kamu sebagai ayahnya gak ada tanggung jawabnya sama sekali. Harusnya kamu mikir, Farhan.”“bukan karna papah gak tanggung jawab. Tapi karna mamah gak peduli sama keadaan kita semua.”Dafa pergi. Mamanya hening tanpa mengatakan apapun.Jika bunuh diri itu tidak dosa, mungkin kini Dafa sudah melakukannya.Alasannya bertahan sampai sekarang adalah untuk Nessa.Untuk adik satu-satunya yang ia miliki.Dafa kini kelas 12 SMA.
Dulu kehidupannya tidak seperti ini, ayahnya seorang Dosen ,Ibunya seorang PNS dengan penghasilan yang lumayan besar. Kehidupan keluarga Dafa sangat harmonis dan bahagia.Tapi ketika ayahnya mengalami kelumpuhan. Semua berubah. Seakan Tuhan telah mengambil habis kebahagiaan dihidupnya. Ayahnya lumpuh,  Nessa yang kini menderia lemah jantung, dan mamahnya yang kini tak peduli terhadap keadaan mereka. Itu alasannya mengapa Dafa kini menjadi orang yang lebih senang menyendiri.“Daf, mau ikutan lomba Design buat Rumah minimalis gak? Lo kan bisa ngedesign gitu. Keren lagi. Ikut yaa?” ajak Kyla, teman cewek yang paling dekat dengan Dafa.“males….” Ucap Dafa singkat.“hadiahnya lumayan Daf, ditambah lagi kalo ada yang suka sama desain lo, lo dikontrak sama pemilik saham. Ini kesempatan emasloh, Daf. Yakin gakmau?” tanyanya meyakinkan“gue gak minat apa-apa la.”“gue cuma saran kok, Daf, lombanya bulan depan. Kalo emang minat, lo bisa belajar buat ngedesainnya dari sekarang.  Bulan depan tinggal dikirim. Nih formulirnya. Siapa tau aja lo jadi berubah fikiran” Ucap  Kyla tersenyum mencoba membujuk Dafa. Kyla memang dekat dengan Dafa, Kyla juga tau apa yang menimpa Dafa. Kadang Kyla ingin sekali membantu Dafa, meminjamkan bahunya untuk Dafa bersandar. Kyla tau bagaimana terpuruknya menjadi Dafa.Hal itu kembali terulang. Kini neneknya sendiri yang berkata menyakitkan.“Sudahlah Ana, tinggalkan Farhan. Kamu itu sarjana, masih muda. Kamu bisa dapat yang lebih baik dari suami yang tidak bertanggung jawab seperti itu.”Dafa geram, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Untung saja ayahnya sedang tidur. Jadi beliau tidak perlu menahan sesak saat Neneknya Dafa berkata seperti itu.“Mamah mau pergi ninggalin kita? Iya?”“kamu tidak mengerti Dafa, mamah capek harus mencarinafkah untuk kalian. Siapa yang membantu mamah? Gak ada Dafa” Ucap mamanya Dafa dengan mata yang sedikit mengembang menahan air matanya.“kasian Nessa mah.”“Nessa ikut mamah. Begitu juga kamu.”“saya gak akan mau ninggalin papah. Saya juga gak akan ngizinin Nessa ikut mamah.”“kamu itu jangan keras kepal Dafa! Kamu tidak tau rasanya menanggung beban demi keluarga. Papamu itu sudah tidak bisa menafkahi mamah lahir dan batin. Kamu harusnya mengerti posisi mamah.”“harusnya mamah yang ngertiin papah! itu bukan kemauan papah, mah!”“tahu apa kamu tentang kehidupan? Tentang pernikahan?! Jangan membangkang! Dan jangan bicara apapun lagi. Besok mamah akan mengurus perceraian mamah.”“terserah mamah. Saya gak akan izinin mamah bawa Nessa! Saya tau. Karna Eyang ngenalin mamah ke orang itu kan? Makanya mamah kayak gini?!” suara Dafa meninggi.“hentikan Dafa! Jangan bicara apapun lagi pada mamamu! Kamu tidak mengerti apapun!”Ana menangis melihat perlakuan Dafa terhadapnya. Anak yang dari kecil ia kasihi kini malah memberontak dan membangkang tanpa peduli pada ibunya sendiriDafa tau, kejadian seperti ini akan ia alami. Mamanya benar benar pergi meninggalkan ia, Nessa dan papanya tanpa memperdulikan mereka. Mamanya pergi bersama laki laki lain yang dikenalkan oleh neneknya sendiri. Sedangkn papanya hanya mampu menahan perih dan kesedihannya didepan Dafa dan Nessa. Kini mamanya pergi. Nessa tidak ingin ikut bersama ibunya karna Nessa tidak suka kepada Om Anton. calon suami baru ibunya, yang terpenting bagi gadis polos seperti Nessa adalah, ia tidak ingin meninggalkan papanya yang sangat ia sayangi dan selalu berdongeng tentang keindahan untuk Nessa.
Dafa kecewa. Pikir Dafa, mamanya tidak akan benar benar meninggalkannya juga Nessa. Tapi ternyata salah, ibunya dengan begitu mudah meninggalkan tanpa peduli pada Dafa. Juga Nessa. Kebencian Dafa pun memuncak kala itu. Ia benci terhadap ibunya sendiri.Bagaimanapun caranya, Dafa harus sukses untuknya, Nessa, dan ayahnya.Dimulai dari usaha Dafa yang dibantu Kyla untuk berpromosi mengajak teman temannya untuk les pada papanya dengan harga yang murah. Dilihat karna kelas 12 memang butuh pelajaran yang lebih untuk ujian nanti. Dafa melakukan itu untuk membantu biaya hidupnya, Nessa dan papanya. Papanya juga tak keberatan dan hasilnya lumayan banyak teman temannya yang berminat les pada papanya Dafa. Malah kurang dari 1 bulan Dafa sudah mendapatkan setidaknya 50 temannya untuk les dengan papanya.“makasih La.” Ucap Dafa tetap pada waja datarnya tanpa melihat Kyla.“sama sama Dafa” ucap Kyla dengan senyum manis nya.Hanya Kyla teman terdekat yang Dafa miliki. Dulu ketkia semua baik baik saja, Dafa punya banyak teman laki laki dan banyak wanita yang mendekatinya. Tapi saat kejadian papanya yang berdampak pada ekonomi keluarganya, Dafa seakan dijauhi oleh mereka. Mungkin fikir mereka orang yang udah  “gak berduit, gak bisa dimanfaatin lagi” dan hanya Kyla, satu satunya cewek yang memang tulus menemaninya. Dafa juga tak ambil pusing saat teman temannya menjauhinya. Karna menurut Dafa, kehadiran Kyla sudah cukup membahagiakan untuknya.           
Tiba tiba saja Dafa merasa sangat amat lemas, tubuhnya terasa tak berdaya saat ia sedang mendribling bola basket. Dan Dafa merasa semuanya gelap.Setelah langsung dilarikan kerumah sakit, akhirnya beberapa jam kemudian Dafa tersadar.“La?” itulah ucapan pertama Dafa ketika ia membuka mata dan melihat Kyla sedang tertidur disampingnya.Perlahan Kyla tersadar . ia brsyukur karna Dafa sudah sadar. Tapi, ada hal lain yang membuat Kyla merasa tak berdaya saat melihat mata Dafa.“gue kenapa, La?” Tanya Dafa heranRasanya Kyla ingin menangis dihadapan Dafa saat itu juga. Mengingat ucapan dokter yang mengatakan bahwa kemungkinan besar Dafa mengalami gagal ginjal. Kyla tak mau mengatakannya kepada Dafa. Tapi ia juga tidak berhak menyembunyikan ini semua. Air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya jatuh juga ke pipi Kyla. Membuat Dafa semakin heran dan merasa ada yang tidak beres.“bilang sama gue, La! Gue kenapa?” Tanya Dafa dengan nada yang meninggi.“Daf..” ucap Kyla tak kuasa“apapun itu, janji sama gue, lo gak boleh nyerah apalagi putus asa.” Lirih Kyla.Dafa semakin heran.“apaan sih, lo ngomong apaan? Yang jelas kenapa sih?!” ketus Dafa tak sabar menunnggu penjelasan Kyla.“Daf…Dokter bilang, kemungkinan besar, lo kena gagal ginjal…” ucap Kyla lirih.Sesaat, dada Dafa terasa sesak. seakan jantungnya berhenti berdetak saat itu juga. Sekali lagi ia bertanya pada Tuhan. Apa ia tak pantas mendapatan kebahagiaan walau sesaat?“tapi belum pasti Daf, kita masih nunggu hasil Lab beberapa hari lagi.”Dan ternyata benar. Dafa mengalami gagal ginjal. Dafa merasa semakin terpuruk. kenapa Tuhan  memberikan cobaat seberat ini untuknya? Entah ini hukuman karna ia telah melukai mamahnya, atau memang Tuhan yang menginginkannya menjadi manusia yang lebih kuat?“La, lomba yang waktu itu masih berlaku?” Tanya Dafa pada Kyla yang sibuk membantu Nessa mengerjakan PR.“masih, lombanya kan minggu depan” ucap Kyla tersenyum.“ini formulirnya. Minggu depan temenin gue ke tempat lombanya ya.” Ucap Dafa.Kyla terkejut dan mersa senang. Kyla yakin Dafa pasti bisa memenangkan loma itu. Tidak perduli apa yang telah membuat Dafa berubah fikiran.“Daf, kamu kenapa? Ada masalah lagi ya?” Tanya papanya yang sedang disuapi makan oleh Dafa.“gak papa.” Ucap Dafa singkat. Tiba tiba Nessa menghampiri Dafa sambil berlari membawa telepon.“abang, mamah Nelfon. Katanya mau ngomong sama abang.” Dafa terdiam sebelum ia memutuskan berbiara kepada mamanya.“bagaimana kabar kalian?”“kita baik baik aja walau tanpa mamah.” Jawab Dafa ketus.“oh syukurlah, jaga Nessa baik baik ya. Mungkin bulan depan mamah akan menemui kalian sekalian merayakan ulangtahun mu.”“saya pasti jaga Nessa dan gak akan ninggalin dia kayak mamah ninggalin kita.”Dafa menutup telepon itu. Ia benci pada mamanya yang pergi begitu saja dengan laki laki lain tanpa memperdulikan mereka.Alasan Dafa mengikuti lomba itu hanya mengincar hadiahnya, Dafa butuh uang yang banyak untuk tetap bertahan hidup demi Nessa dan papanya. Ia tak bisa  membayangkan jika nanti ia tiada. Kesuksesan itu harus diraih dan diibuktikan kepada ibunya yang ia benci.
**
Dafa dan Kyla kini sudah stand by di tempat lomba dengan membawa dokumen hasil design rumah minimanis yang ia rancang.“lo pasti menang deh, Daf!” ucap Kyla sumringah.Saat Dafa menjelaskan Konsep rumah yang ia ciptakan, terlihat orang orang penting serta juri juri menyimaknya dengan sangat serius. Setelah selesai menjelaskan, semuanya bertepuk tangan seraya kagum pada Cowok berusia 18 tahun tersebut.Dafa akhirnya memenangkan perlombaan itu. Dan tak salah lagi, Dafa dikontrak oleh perusahaan dibidang Design Grafis untuk bekerjasama dalam membuat proyek rumah dengan desain miliknya.Kabar gembira ini disampaikan kepada papanya. Papanya begitu senang dan bangga atas keberhasilan Dafa. Untuk pertamakalinya dalam 2 tahun belakangan ini Dafa memperlihatkan senyumnya, senyum kebahagiaannya. Senyum yang membuat Dafa merasa senang karna telah bisa membanggakan papanya.Waktunya Dafa untuk cuci darah. Dafa ingin bertahan. Entah sampain kapan ia mampu bertahan, yang jelas Dafa harus tetap bertahan meski penyakitnya sudah semakin parah.“selamat ulangtahun ya Abang, ini buat abang. Dari aku sama papah. Semoga abang suka” ucap Nessa sambil membawa kue Tart yang berbentuk wajah Batman kesukaan Dafa. Dafa terhanyut, teharu, ia merasa sangat bahagia.“makasih Nessa.”  Ucap Dafa tersenyum dan mencium adiknya itu.Dafa melihat papanya. Dengan rasa amat bahagia, Dafa tersenyum lalu memeluk papanya yang ada dikursi roda .“makasih pah…” ucap Dafa lirih. Entah apa yang Dafa rasakan saat ini. Untuk pertamakalinya ia menangis dipelukan papanya. Betapa sayangnya Dafa dengan adik dan papanya itu. Seolah tak ingin meninggalkannya dan membuat Dafa harus tetap bertahan untuk mereka.Kyla juga datang memberi ucapan selamat untuk Dafa. Menambah kebahagiaan dihari ulangtahunnya.Hingga ketika, mamanya datang dan mengusik senyuman Dafa. Dafa menyambut sinis kehadiran mamanya yang turun dari mobil bersama Suaminya.“selamat ulangtahun ya, Dafa” ucap Ana pada anaknya walau ia tau, kehadirannya tak dianggap oleh anak kandungnya sendiri. Nessa menghampiri dan memeluk ibunya itu. Lalu melihat sekilas kepada laki laki disamping ibunya dengan heran.“Daf mau kemana?” Tanya kyla saat melihat Dafa malah menuju kamarnya.“biarkan, Kyla. Tante ngerti kok. Tolong kasih ini untuk Dafa ya.” Ucap Ana memberikan sebuah Album kepada Dafa. Album masa kecil Dafa dulu.“iya tante” balas Kyla.Setelah mencium Nessa, Ana pamit pulang. Terasa sesak sedikit didadanya. Tapi ia mengerti, ini semua memang kesalahannya.
**
Tiga tahun telah berlalu, kini kehidupan Dafa sudah sangat berbeda. Ia menjadi sosok sukses dengan usia mudanya dan dengan jerih payahnya, ia bisa membahagiakan adik, papa, juga Kyla yang kini menjadi seorang wanita terpenting untuknya.Tapi satu tahun kebelakang Dafa bertahan, ia merasa sudah tidak mampu menahan semuanya. Menahan penyakintnya yang semakin hari semakin parah walau Dafa sudah rutin mencuci darahnya. Dan Dafa merasa ini puncaknya, puncak dimana ia harus berhenti bertahan walau sekuat tenaganya Dafa masih ingin tetap bertahan untuk orang orang yang ia sayang. Ia tidak ingin hidupnya berakhir seperti ini. Dafa merasa semua gelap. Sangat gelap, hanya cahaya putih yang dapat ia lihat saat ini. Entah cahaya apaitu, Dafa memaksa dirinya untuk mengikuti cahaya itu walau papanya sekuat tenaga mencegahnya.Kamu harus bertahan, Dafa…            Kyla memberitahu semuanya. Memberitahu papanya tentang penyakit Dafa yang dideritanya kurang lebih4  tahun belakangan. Papanya tercengang, tak menyangka 4 tahun ini Dafa menyembunyikan hal yang seharusnya diketahui papanya, Papanya sangat tak menyangka jika dafa bisa menyembunyikan nya rapat rapat. Kini Dafa dalam keadaan krisis dan nyawanya sangat dipertaruknan saat itu juga. Papanya pun memutuskan untuk mendonorkan satu Ginjalnya untuk Dafa.Disecarik kertas Dafa menulis, “apapun yang terjadi sama saya, tidak akan saya izinkan seorangpun berkorban demi saya.”
**
Oprasi itu...Tuhan berkehendak lain. Tuhan sayang pada sosok laki laki yang berusaha sekuat tenaga bertahan untuk orang orang yang ia sayangi. Tuhan mengambil Dafa, oprasi ginjal Dafa ternyata gagal saat oprasi itu baru saja ingin dilakukan.Dafa sudah memutuskan untuk menghentikan perjuangannya. Ia yakin, orang orang yang ia sayangi bisa bahagia, tanpa harus mengorbankan apapun untuknya untuk tetep bisa hidup.
“gue sayang sama lo, Kyla.. maaf baru sekarang gue nyadar kalo lo sayang sama gue, gue gatau La, sampe kapan gue mampu bertahan. Tapi jangan khawatir. Gue bakal tetep bertahan buat lo. Papah, juga Nessa.”
“Saya sayang sama papah. Saya juga sayang sama Nessa. Maafin saya belum bisa berbuat banyak buat kebahagiaan kalian. Pengorbanan papah buat saya udah cukup. Saya gak akan ngebiarin siapapun berkorban lagi buat saya. Saya sayang sama papah, juga Nessa. Maafin saya, pah..”
“mah, entah dimana mamah sekarang, saya harap mamah mau maafin saya. Maafin sikap saya. Jujur saya emang benci sama mamah. Tapi saya gak bisa bantah diri saya sendiri kalo saya sayang banget sama mamah. Makasih buat pengorbanan mamah buat saya. Saya Cuma mau mamah liat perjuangan orang yang sayang sama mamah. Bukan malah ninggalin dia saat dia udah gak bisa apa apa.”
Dafa Anggara PrasetyaLahir, Jakarta,15 Desember 1992Wafat, Jakarta, 23 Desember 2014Kasih sayang membuatmu bertahan, kuat, juga tak mudah jatuh dalam setiap cobaan yang Tuhan berikan. Hingga saatnya, Tuhan menjemputmu karna Ia tau, pengorbananmu sudah cukup membuat orang yang kau sayangi bahagia.

Tamat…
Share: