Mentari baru
saja terbit dari peraduannya. Saat kebanyakan orang tersenyum pada dunianya
seraya bersyukur atas nikmat sang maha pencipta, Dafa malah menutup wajah dan
telinganya dengan bantal. Ia muak dengan keadaan rumah setiap pagi. Mungkin
setiap saat.“saya kan sudah bilang, jika kamu tidak bisa menafkahi keluargamu,
lebih baik kamu pulang kan saya!”Ucap mamahnya Dafa. Kata kata itu sudah sering
terdengar darinya sejak papa Dafa mengalami kelumpuhan 2 tahun lalu. Dafa muak.
Ingin sekali ia pergi dari rumah yang membuatnya semakin sulit bernafas dan
menghilangkan keinginannya untuk tetap hidup. Tapi disini ada Nessa. Adik
kecilnya yang sangat ia sayangi. Dafa hanya bisa pasrah dengan hidupnya kini.
Dengan semua keadaan yang membuatnya terpuruk.Nessa masuk ke kamar Dafa dan
memeluk abang tersayangnya itu seperti ketakutan.“Nessa gak mau dikamar mamah,
bang. Nessa takut” ucap gadis kecil berumur 6 tahun itu polos.Dada Dafa sedikit
sesak. Ia peluk adik kecilnya itu.“yaudah, Nessa disini dulu. Abang mau bilang
kemamah biar mamah gak marah marah lagi.” Ucap Dafa menenangkan. Dafa turun
kebawah menemui mamahnya yang masih tak ada hentinya membentak papanya yang
sedang tak berdaya diatas tepat tidur.Dilihat sekilas mamanya dengan sinis. Ada
sedikit kebencian yang ia lihatkan dimatanya.“mamah kalo mau pergi , pergi aja.
Mau pulang semalem apa juga terserah. Gak pulang juga gak papa. Masih pagi mah.
Jangan rusak pagi saya sama Nessa.”“liat tuh. Anak kamu aja bilang begitu.
Karna apa? Karna kamu sebagai ayahnya gak ada tanggung jawabnya sama sekali.
Harusnya kamu mikir, Farhan.”“bukan karna papah gak tanggung jawab. Tapi karna
mamah gak peduli sama keadaan kita semua.”Dafa pergi. Mamanya hening tanpa
mengatakan apapun.Jika bunuh diri itu tidak dosa, mungkin kini Dafa sudah
melakukannya.Alasannya bertahan sampai sekarang adalah untuk Nessa.Untuk adik
satu-satunya yang ia miliki.Dafa kini kelas 12 SMA.
Dulu
kehidupannya tidak seperti ini, ayahnya seorang Dosen ,Ibunya seorang PNS
dengan penghasilan yang lumayan besar. Kehidupan keluarga Dafa sangat harmonis
dan bahagia.Tapi ketika ayahnya mengalami kelumpuhan. Semua berubah. Seakan
Tuhan telah mengambil habis kebahagiaan dihidupnya. Ayahnya lumpuh, Nessa yang kini menderia lemah jantung, dan
mamahnya yang kini tak peduli terhadap keadaan mereka. Itu alasannya mengapa
Dafa kini menjadi orang yang lebih senang menyendiri.“Daf, mau ikutan lomba
Design buat Rumah minimalis gak? Lo kan bisa ngedesign gitu. Keren lagi. Ikut
yaa?” ajak Kyla, teman cewek yang paling dekat dengan Dafa.“males….” Ucap Dafa
singkat.“hadiahnya lumayan Daf, ditambah lagi kalo ada yang suka sama desain
lo, lo dikontrak sama pemilik saham. Ini kesempatan emasloh, Daf. Yakin
gakmau?” tanyanya meyakinkan“gue gak minat apa-apa la.”“gue cuma saran kok,
Daf, lombanya bulan depan. Kalo emang minat, lo bisa belajar buat ngedesainnya
dari sekarang. Bulan depan tinggal
dikirim. Nih formulirnya. Siapa tau aja lo jadi berubah fikiran” Ucap Kyla tersenyum mencoba membujuk Dafa. Kyla
memang dekat dengan Dafa, Kyla juga tau apa yang menimpa Dafa. Kadang Kyla
ingin sekali membantu Dafa, meminjamkan bahunya untuk Dafa bersandar. Kyla tau
bagaimana terpuruknya menjadi Dafa.Hal itu kembali terulang. Kini neneknya
sendiri yang berkata menyakitkan.“Sudahlah Ana, tinggalkan Farhan. Kamu itu
sarjana, masih muda. Kamu bisa dapat yang lebih baik dari suami yang tidak
bertanggung jawab seperti itu.”Dafa geram, rahangnya mengeras dan tangannya
mengepal. Untung saja ayahnya sedang tidur. Jadi beliau tidak perlu menahan
sesak saat Neneknya Dafa berkata seperti itu.“Mamah mau pergi ninggalin kita?
Iya?”“kamu tidak mengerti Dafa, mamah capek harus mencarinafkah untuk kalian.
Siapa yang membantu mamah? Gak ada Dafa” Ucap mamanya Dafa dengan mata yang
sedikit mengembang menahan air matanya.“kasian Nessa mah.”“Nessa ikut mamah.
Begitu juga kamu.”“saya gak akan mau ninggalin papah. Saya juga gak akan
ngizinin Nessa ikut mamah.”“kamu itu jangan keras kepal Dafa! Kamu tidak tau
rasanya menanggung beban demi keluarga. Papamu itu sudah tidak bisa menafkahi
mamah lahir dan batin. Kamu harusnya mengerti posisi mamah.”“harusnya mamah
yang ngertiin papah! itu bukan kemauan papah, mah!”“tahu apa kamu tentang
kehidupan? Tentang pernikahan?! Jangan membangkang! Dan jangan bicara apapun
lagi. Besok mamah akan mengurus perceraian mamah.”“terserah mamah. Saya gak
akan izinin mamah bawa Nessa! Saya tau. Karna Eyang ngenalin mamah ke orang itu
kan? Makanya mamah kayak gini?!” suara Dafa meninggi.“hentikan Dafa! Jangan
bicara apapun lagi pada mamamu! Kamu tidak mengerti apapun!”Ana menangis
melihat perlakuan Dafa terhadapnya. Anak yang dari kecil ia kasihi kini malah
memberontak dan membangkang tanpa peduli pada ibunya sendiriDafa tau, kejadian
seperti ini akan ia alami. Mamanya benar benar pergi meninggalkan ia, Nessa dan
papanya tanpa memperdulikan mereka. Mamanya pergi bersama laki laki lain yang
dikenalkan oleh neneknya sendiri. Sedangkn papanya hanya mampu menahan perih
dan kesedihannya didepan Dafa dan Nessa. Kini mamanya pergi. Nessa tidak ingin
ikut bersama ibunya karna Nessa tidak suka kepada Om Anton. calon suami baru
ibunya, yang terpenting bagi gadis polos seperti Nessa adalah, ia tidak ingin
meninggalkan papanya yang sangat ia sayangi dan selalu berdongeng tentang
keindahan untuk Nessa.
Dafa kecewa.
Pikir Dafa, mamanya tidak akan benar benar meninggalkannya juga Nessa. Tapi
ternyata salah, ibunya dengan begitu mudah meninggalkan tanpa peduli pada Dafa.
Juga Nessa. Kebencian Dafa pun memuncak kala itu. Ia benci terhadap ibunya sendiri.Bagaimanapun
caranya, Dafa harus sukses untuknya, Nessa, dan ayahnya.Dimulai dari usaha Dafa
yang dibantu Kyla untuk berpromosi mengajak teman temannya untuk les pada
papanya dengan harga yang murah. Dilihat karna kelas 12 memang butuh pelajaran yang
lebih untuk ujian nanti. Dafa melakukan itu untuk membantu biaya hidupnya,
Nessa dan papanya. Papanya juga tak keberatan dan hasilnya lumayan banyak teman
temannya yang berminat les pada papanya Dafa. Malah kurang dari 1 bulan Dafa
sudah mendapatkan setidaknya 50 temannya untuk les dengan papanya.“makasih La.”
Ucap Dafa tetap pada waja datarnya tanpa melihat Kyla.“sama sama Dafa” ucap
Kyla dengan senyum manis nya.Hanya Kyla teman terdekat yang Dafa miliki. Dulu
ketkia semua baik baik saja, Dafa punya banyak teman laki laki dan banyak
wanita yang mendekatinya. Tapi saat kejadian papanya yang berdampak pada
ekonomi keluarganya, Dafa seakan dijauhi oleh mereka. Mungkin fikir mereka
orang yang udah “gak berduit, gak bisa
dimanfaatin lagi” dan hanya Kyla, satu satunya cewek yang memang tulus
menemaninya. Dafa juga tak ambil pusing saat teman temannya menjauhinya. Karna
menurut Dafa, kehadiran Kyla sudah cukup membahagiakan untuknya.
Tiba tiba saja
Dafa merasa sangat amat lemas, tubuhnya terasa tak berdaya saat ia sedang
mendribling bola basket. Dan Dafa merasa semuanya gelap.Setelah langsung
dilarikan kerumah sakit, akhirnya beberapa jam kemudian Dafa tersadar.“La?”
itulah ucapan pertama Dafa ketika ia membuka mata dan melihat Kyla sedang
tertidur disampingnya.Perlahan Kyla tersadar . ia brsyukur karna Dafa sudah
sadar. Tapi, ada hal lain yang membuat Kyla merasa tak berdaya saat melihat
mata Dafa.“gue kenapa, La?” Tanya Dafa heranRasanya Kyla ingin menangis
dihadapan Dafa saat itu juga. Mengingat ucapan dokter yang mengatakan bahwa
kemungkinan besar Dafa mengalami gagal ginjal. Kyla tak mau mengatakannya
kepada Dafa. Tapi ia juga tidak berhak menyembunyikan ini semua. Air mata yang
sedari tadi tertahan akhirnya jatuh juga ke pipi Kyla. Membuat Dafa semakin
heran dan merasa ada yang tidak beres.“bilang sama gue, La! Gue kenapa?” Tanya
Dafa dengan nada yang meninggi.“Daf..” ucap Kyla tak kuasa“apapun itu, janji
sama gue, lo gak boleh nyerah apalagi putus asa.” Lirih Kyla.Dafa semakin
heran.“apaan sih, lo ngomong apaan? Yang jelas kenapa sih?!” ketus Dafa tak
sabar menunnggu penjelasan Kyla.“Daf…Dokter bilang, kemungkinan besar, lo kena
gagal ginjal…” ucap Kyla lirih.Sesaat, dada Dafa terasa sesak. seakan
jantungnya berhenti berdetak saat itu juga. Sekali lagi ia bertanya pada Tuhan.
Apa ia tak pantas mendapatan kebahagiaan walau sesaat?“tapi belum pasti Daf,
kita masih nunggu hasil Lab beberapa hari lagi.”Dan ternyata benar. Dafa
mengalami gagal ginjal. Dafa merasa semakin terpuruk. kenapa Tuhan memberikan cobaat seberat ini untuknya? Entah
ini hukuman karna ia telah melukai mamahnya, atau memang Tuhan yang
menginginkannya menjadi manusia yang lebih kuat?“La, lomba yang waktu itu masih
berlaku?” Tanya Dafa pada Kyla yang sibuk membantu Nessa mengerjakan PR.“masih,
lombanya kan minggu depan” ucap Kyla tersenyum.“ini formulirnya. Minggu depan
temenin gue ke tempat lombanya ya.” Ucap Dafa.Kyla terkejut dan mersa senang.
Kyla yakin Dafa pasti bisa memenangkan loma itu. Tidak perduli apa yang telah
membuat Dafa berubah fikiran.“Daf, kamu kenapa? Ada masalah lagi ya?” Tanya
papanya yang sedang disuapi makan oleh Dafa.“gak papa.” Ucap Dafa singkat. Tiba
tiba Nessa menghampiri Dafa sambil berlari membawa telepon.“abang, mamah
Nelfon. Katanya mau ngomong sama abang.” Dafa terdiam sebelum ia memutuskan
berbiara kepada mamanya.“bagaimana kabar kalian?”“kita baik baik aja walau
tanpa mamah.” Jawab Dafa ketus.“oh syukurlah, jaga Nessa baik baik ya. Mungkin
bulan depan mamah akan menemui kalian sekalian merayakan ulangtahun mu.”“saya
pasti jaga Nessa dan gak akan ninggalin dia kayak mamah ninggalin kita.”Dafa
menutup telepon itu. Ia benci pada mamanya yang pergi begitu saja dengan laki
laki lain tanpa memperdulikan mereka.Alasan Dafa mengikuti lomba itu hanya
mengincar hadiahnya, Dafa butuh uang yang banyak untuk tetap bertahan hidup
demi Nessa dan papanya. Ia tak bisa
membayangkan jika nanti ia tiada. Kesuksesan itu harus diraih dan
diibuktikan kepada ibunya yang ia benci.
**
Dafa dan Kyla
kini sudah stand by di tempat lomba dengan membawa dokumen hasil design rumah
minimanis yang ia rancang.“lo pasti menang deh, Daf!” ucap Kyla sumringah.Saat
Dafa menjelaskan Konsep rumah yang ia ciptakan, terlihat orang orang penting
serta juri juri menyimaknya dengan sangat serius. Setelah selesai menjelaskan,
semuanya bertepuk tangan seraya kagum pada Cowok berusia 18 tahun tersebut.Dafa
akhirnya memenangkan perlombaan itu. Dan tak salah lagi, Dafa dikontrak oleh
perusahaan dibidang Design Grafis untuk bekerjasama dalam membuat proyek rumah
dengan desain miliknya.Kabar gembira ini disampaikan kepada papanya. Papanya
begitu senang dan bangga atas keberhasilan Dafa. Untuk pertamakalinya dalam 2
tahun belakangan ini Dafa memperlihatkan senyumnya, senyum kebahagiaannya.
Senyum yang membuat Dafa merasa senang karna telah bisa membanggakan
papanya.Waktunya Dafa untuk cuci darah. Dafa ingin bertahan. Entah sampain
kapan ia mampu bertahan, yang jelas Dafa harus tetap bertahan meski penyakitnya
sudah semakin parah.“selamat ulangtahun ya Abang, ini buat abang. Dari aku sama
papah. Semoga abang suka” ucap Nessa sambil membawa kue Tart yang berbentuk
wajah Batman kesukaan Dafa. Dafa terhanyut, teharu, ia merasa sangat
bahagia.“makasih Nessa.” Ucap Dafa
tersenyum dan mencium adiknya itu.Dafa melihat papanya. Dengan rasa amat
bahagia, Dafa tersenyum lalu memeluk papanya yang ada dikursi roda .“makasih
pah…” ucap Dafa lirih. Entah apa yang Dafa rasakan saat ini. Untuk
pertamakalinya ia menangis dipelukan papanya. Betapa sayangnya Dafa dengan adik
dan papanya itu. Seolah tak ingin meninggalkannya dan membuat Dafa harus tetap
bertahan untuk mereka.Kyla juga datang memberi ucapan selamat untuk Dafa.
Menambah kebahagiaan dihari ulangtahunnya.Hingga ketika, mamanya datang dan
mengusik senyuman Dafa. Dafa menyambut sinis kehadiran mamanya yang turun dari
mobil bersama Suaminya.“selamat ulangtahun ya, Dafa” ucap Ana pada anaknya
walau ia tau, kehadirannya tak dianggap oleh anak kandungnya sendiri. Nessa
menghampiri dan memeluk ibunya itu. Lalu melihat sekilas kepada laki laki
disamping ibunya dengan heran.“Daf mau kemana?” Tanya kyla saat melihat Dafa
malah menuju kamarnya.“biarkan, Kyla. Tante ngerti kok. Tolong kasih ini untuk
Dafa ya.” Ucap Ana memberikan sebuah Album kepada Dafa. Album masa kecil Dafa
dulu.“iya tante” balas Kyla.Setelah mencium Nessa, Ana pamit pulang. Terasa
sesak sedikit didadanya. Tapi ia mengerti, ini semua memang kesalahannya.
**
Tiga tahun telah
berlalu, kini kehidupan Dafa sudah sangat berbeda. Ia menjadi sosok sukses
dengan usia mudanya dan dengan jerih payahnya, ia bisa membahagiakan adik,
papa, juga Kyla yang kini menjadi seorang wanita terpenting untuknya.Tapi satu
tahun kebelakang Dafa bertahan, ia merasa sudah tidak mampu menahan semuanya.
Menahan penyakintnya yang semakin hari semakin parah walau Dafa sudah rutin
mencuci darahnya. Dan Dafa merasa ini puncaknya, puncak dimana ia harus
berhenti bertahan walau sekuat tenaganya Dafa masih ingin tetap bertahan untuk
orang orang yang ia sayang. Ia tidak ingin hidupnya berakhir seperti ini. Dafa
merasa semua gelap. Sangat gelap, hanya cahaya putih yang dapat ia lihat saat
ini. Entah cahaya apaitu, Dafa memaksa dirinya untuk mengikuti cahaya itu walau
papanya sekuat tenaga mencegahnya.Kamu harus bertahan, Dafa… Kyla memberitahu semuanya.
Memberitahu papanya tentang penyakit Dafa yang dideritanya kurang lebih4 tahun belakangan. Papanya tercengang, tak
menyangka 4 tahun ini Dafa menyembunyikan hal yang seharusnya diketahui
papanya, Papanya sangat tak menyangka jika dafa bisa menyembunyikan nya rapat
rapat. Kini Dafa dalam keadaan krisis dan nyawanya sangat dipertaruknan saat
itu juga. Papanya pun memutuskan untuk mendonorkan satu Ginjalnya untuk
Dafa.Disecarik kertas Dafa menulis, “apapun yang terjadi sama saya, tidak akan
saya izinkan seorangpun berkorban demi saya.”
**
Oprasi
itu...Tuhan berkehendak lain. Tuhan sayang pada sosok laki laki yang berusaha
sekuat tenaga bertahan untuk orang orang yang ia sayangi. Tuhan mengambil Dafa,
oprasi ginjal Dafa ternyata gagal saat oprasi itu baru saja ingin
dilakukan.Dafa sudah memutuskan untuk menghentikan perjuangannya. Ia yakin,
orang orang yang ia sayangi bisa bahagia, tanpa harus mengorbankan apapun
untuknya untuk tetep bisa hidup.
“gue sayang sama lo, Kyla.. maaf baru
sekarang gue nyadar kalo lo sayang sama gue, gue gatau La, sampe kapan gue
mampu bertahan. Tapi jangan khawatir. Gue bakal tetep bertahan buat lo. Papah,
juga Nessa.”
“Saya sayang sama papah. Saya juga sayang
sama Nessa. Maafin saya belum bisa berbuat banyak buat kebahagiaan kalian. Pengorbanan
papah buat saya udah cukup. Saya gak akan ngebiarin siapapun berkorban lagi
buat saya. Saya sayang sama papah, juga Nessa. Maafin saya, pah..”
“mah, entah dimana mamah sekarang, saya
harap mamah mau maafin saya. Maafin sikap saya. Jujur saya emang benci sama
mamah. Tapi saya gak bisa bantah diri saya sendiri kalo saya sayang banget sama
mamah. Makasih buat pengorbanan mamah buat saya. Saya Cuma mau mamah liat
perjuangan orang yang sayang sama mamah. Bukan malah ninggalin dia saat dia
udah gak bisa apa apa.”
Dafa Anggara
PrasetyaLahir, Jakarta,15 Desember 1992Wafat, Jakarta, 23 Desember 2014Kasih
sayang membuatmu bertahan, kuat, juga tak mudah jatuh dalam setiap cobaan yang
Tuhan berikan. Hingga saatnya, Tuhan menjemputmu karna Ia tau, pengorbananmu sudah
cukup membuat orang yang kau sayangi bahagia.
Tamat…