Wednesday, April 12, 2017

Melangkah maju tanpa harus menunggu otak memerintah kaki.

Well, okay.
ini tulisan pertama dibulan April, agak absurd dan gue juga gatau mau nulis apa aja.
lebih ke cerita mungkin.
rasanya, gue, diri gue sendiri, bener bener harus di benerin saraf2 di otak, terutama saraf saraf yang bikin gue jadi mikir negatif.
yap! gue masih susah buat nggak terus mikir negatif tentang hal hal yang malah nyatanya emang memunculkan pikiran negatif.
padahal pikiran negatif gak ada untungnyaaaaaaaa.
gue pengen berubah, dari pola pikirnya terutama.
ngga terus terusan begini, bukannya maju malah makin mundur, ya kalo ngga mundur ya disitu situ aja, gak ada perubahan. sedangkan tidur aja berubah2, kalo ngga, mati.
WHERE DO I BEGIN?
dimulai dari, "NIAT".
dimana ada niat, disitu ada jalan. asal niatnya baik.
udah banyak motivasi yang banyak masuk ke otak, otak nangkep sekaligus lupa kalo sebenernya memory nya suka ga cukup nampung banyak, jadi banyak lupanya juga. lupa juga nyatet, seenggaknya dengan nyatet, bisa di flashback lagi biar inget.
kemarin, orang no satu di Tangsel, foto bareng gue wkwk. Bu Airin Rachmi Diany!
dia bilang, yang intinya harus berani bermimpi, harus berani mencoba, kalau gak PD, ya belajar, jangan terus terusan disitu situ aja. iya bener. tapi nerapinnya itu Ya Allah Gustiiii :( susah pisan.
malu
malu
malu
gak pede
gak pede
gak pede
takut
takut
takut
btw ga nyambung sm pembahasan awal si yaa.
cuma, ya gini, gue susah maju karna kebanyakan mikirin hal negatif, terlalu mikirin pemikiran orang.
so what can i do ? :(
butuh power, berapa volt del?
biar bisa bangkit?
sampe lu lupa, malu itu apa?
gak tau ...


-adela
(Lantai kedua tertinggi ke 2, setelah rooftop dan 8) 12 April 2017


Share:

Wednesday, March 8, 2017

"Lalu kita bagaimana ?" ucap kumpulan kata yang belum usai.

kemampuan menulisku terasa kian lumpuh.
kemampuan menulisku serasa kian terhisap layaknya manusia yang terjelembab dalam lumpur hidup.
lalu harus bagaimana aku?
impian besar menjadi seorang penulis, tetapi kini seakan tanganku mati suri.
tak mau bergerak, takmau berkerja.
tulisa tulisan yang kuharap tidak akan hanya menjadi bangkai dalam sebuah kotak penyimpanan bermuatan 400gigabite.
otak mulai jenuh dengan rutinitas sehari hari,
tapi hati terus memaksa untuk menulis walau kenyataannya menolak.
bagaimana bisa menjadikan kata kata itu menjadi sebuah buku?
jika menulis 1000 kata sehari pun rasanya seberat memikul 1 karung beras 45 kg?
lalu aku harus bagaimana?
otakku mandek, entah, asupan apa yang kuperlukan hingga tangan dan imajinasiku bekerja kembali.
lalu aku mau sampai kapan?
menunda mimpi besar, tanpa tau kapan, hanya mampu menatap, tanpa mau bergerak.
ah, rasanya aku rindi diriku sendiri yang dulu.
Share: