Nama ku Cinta, aku punya seorang kekasih bernama Davin. Kami berpacaran sudah lumayan lama, hampir 5 tahun. Sebenarnya Mamanya Davin ingin aku segera menikah dengan Davin, atau bertunangan. Begitu juga dengan Davin. Sebenarnya aku juga mau. Tapi, ada satu hal yang membuat alasan ku untuk menolaknya.
Hari ini rencananya aku ingin mengajaknya makan malam, karna sudah beberapa bulan kami tidak bertemu karna sekaran Davin menjadi orang yang sangat sibuk.
"hallo sayang malam ini kamu sibuk gak .?". Tanya ku dengan harapan Davin memberikan jawaban yang dapat membuat ku tersenyum.
"maaf cinta, hari ini aku mau istirahat dulu. Tugas kampus ditambah kantor bikin aku pengen istirahat.".
Seketika aku terdiam, ku lukiskan raut kekecewaan aku . Tetapi Davin takkan mungkin melihatnya. Tapi aku bisa mengerti, Davin terlalu lelah .
"oh begitu ya, yaudah gapapa, lain kali pasti bisa. Sekarang kamu istirahat dulu. I love you.".
"love you too"
telepon pun di tutup.
Entah apa yang bisa membuat ku jatuh cinta kepada seorang yang keras kepala, egois, cuek, dan lebih memilih dunianya sendiri. Tapi bukan karna itu aku jatuh cinta padanya. Karna kelembutannya, dan kenyamanan disetiap aku bersamanya, membuat aku luluh. Aku sayang padanya , begitu juga sebaliknya. Davin juga menyayangiku, buktinya dia selalu menjaga perasaan ku. Ia setia padaku dan menjauhi setiap wanita yang sekiranya ingin mendekatinya. Tapi karna kecuekannya kadang aku merasa aku tak disayang oleh nya.
~maafkan aku, Davin. Karna sudah berbohong satu hal padamu. Tapi percayalah aku tidak ingin kehilangan mu.~
~~~
3 bulan lalu, dokter memvonisku bahwa umurku tidak akan bertahan sampai 5 bulan. Oh Tuhan . Siapa yang tidak syok mendapat kabar seperti itu. Dan kini, mungkin sisa waktu ku tinggal 2 bulan lagi. Atau mungkin lebih pendek, aku ingin. Disisa terakhirku, aku bisa mati dalam pelukan Davin. Dan bisa menghabiskan seharian sisa waktuku bersamanya.
~~~
Hari ini aku memutuskan untuk kerumahnya. Aku sangat Rindu padanya. Tapi ia tidak ada di sana. Kata tante, Davin masih sibuk dengan proyek papa nya. Dan aku mencoba untuk mengerti. Ku buat kan blackforest kesukaannya dan ku letakan di meja tempat tidurnya , setelah itu aku pamit pulang.
Malamnya hanphone ku berdering.
"hallo sayang.?" sapa ku dengan tersenyum senang .
"sayang, makasi kue nya. Aku suka".
Mendengar ia berkata itu, senyum ku semakin melebar. Hatiku pun jadi semakin senang.
"aku minta maaf kalo akhir akhir ini waktu ku sedikit untuk mu."
"iya Davin, aku bisa mengerti. Aku sayang kamu".
"aku juga. Sekarang istirahat dulu, aku tau kamu capek".
iya, aku memang lelah. Lelah dengan semua ini, penyakit yang membuatku kadang ingin mati saja. Tapi berkat kamu, aku tidak ingin meninggalkan mu. Aku ingin mati dipelukanmu, Davin.
~~~
Hari ini aku rindu padanya. Ingin sekali aku menelponnya tetapi aku takut mengganggunya.
Hari ini aku merasa kepalaku sakit lagi. Semakin hari terasa semakin sakit. Dan semuanya pun gelap.
~~~~
ku buka mata ku perlahan. Ku lihat sekelilingku. Ah ternyata kakak ku masih tertidur di sofa hospital. Ku cari handphone ku yang biasa kakak ku letakan dimeja dekat ku. Setelah itu, aku pun menelpon Davin.
"hai sayang.?"
"jangan ganggu gue.!". Tiba tiba suara itu terdengar menyakitkan ditelingaku. Nafas ku pun tidak beraturan.
Kakak menghampiriku.
"sudah berapa lama aku berada disini.?". Tanyaku
"3 hari. Bagaimana keadaan mu sekarang?"
"3 hari.? Membaik ka.".
~Davin, aku minta maaf. Bukan maksud ku untuk mengabaikan mu. Maafkan aku, Davin.~
~~~
2 minggu berlalu tanpa kabar dari nya. Aku memutuskan untuk menemui Davin di rumahnya. Walaupun dokter dan kakak ku masih menyuruh ku ber istirahat
Tante bilang , sore ini Davin pasti pulang. Aku pun menunggu nya sambil membuat cake kesukaannya. Aku tak sabar ingin bertemu dan meminta maaf atas hal kemarin. Tante bilang, Davin sepertinya marah pada ku. Handphone ku tidak aktif, dan ketika ia ke rumah ku. Tidak ada siapapun. Aku memang hanya tinggal berdua dengan kakak ku.
Suara mobil Davin terdengar. Aku pun bersiap, ketika aku memberikan kue itu pada Davin, ia mengambilnya. Tetapi apa yang ia laku kan? Ia buang kue itu dan dengan cuek berjalan menjauhiku. Hatiku hancur seperti kue yang kini terpampang dihadapan ku. Susah payah aku membuatnya tetapi ia malah begitu. Ia tidak mengharagi ku. Aku kesal, tapi aku memahaminya. Aku tau sifat asli Davin. Aku menghampirinya dan meminta maaf padanya. Tapi tubuh ku di dorong, Tante mencegahnya sehinga aku tak jatuh. Aku mencoba kua. Di bantu tante yang mencoba menguatkanku. Davin tak peduli dengan tangisan ku. Tapi aku tahu. Davin begitu karna ia sayang pada ku.
~~~
1 minggu tidak ada kabar dari nya. Handphone nya tetap tidak aktif. Aku ingin sekali menemui nya , tapi aku merasa tubuh ku sudah tidak kuat. Kepalaku sangat sakit sehingga bangun pun susah. Davin, ku mohon maafkan aku. Dan kini, sakit itu semakin parah. Sakit yang ter amat sakit. Aku merasa ibuku datang menemuiku, mengajak ku dan semua terasa gelap.
~~~
"Davin, cinta ..." ucap nyonya Tamara pada anaknya.
"ada apa lagi dengannya.? Bilang padanya aku tidak ingin melihat wajahnya."
"sayang, kamu memang tidak akan bisa melihatnya lagi. Cinta meninggal, Davin.".
Seperti ada yang menghantam kepalanya, menusuk nusuk nya memakai benda yang amat tajam tepat di hati Davin. Ia menangis. Untuk pertama kali nya ia menangis untuk CINTA .
**
Dimakam ini. Makam yang bertulis kan nama Cinta.
Cintanya kini sudah tiada. Cintanya pergi tanpa sempat mengatakan hal apapun. Davin menyesal. Ia terpukul , ia masih tak dapat menerima kenyataan ini.
"ini, bacalah. Aku melihatnya memeluk buku ini ketika ia tertidur".
Perlahan , Davin membuka buku itu.
"Davin, aku mencintaimu. Maafkan aku sudah membohongimu. Aku takut kehilangan mu ketika kamu tahu tentang penyakit ku."
"Davin, hari ini aku rindu pada mu. Aku ingin memeluk mu."
"Davin, bukan maksud ku mengabaikan mu. Aku menyayangimu. Maafkan aku Davin."
“entah mengapa, hari ini aku ingin besama mu, memeluk mu. Hari ini, entah mengapa aku merasa semua warna berubah menjadi putih. Tuhan, aku rindu pada nya. Hari ini, entah mengapa aku ingin berkumpul dengan orang orang yang ku sayang.”
"Davin, aku merasa hari ini berbeda. Aku merasa kalau aku berakhir pada hari ini. Davin, temui aku. Aku ingin mati dipelukan mu, mencium mu. Davin, tolong aku. Kepalaku sakit sekali. Tolong aku Davin, aku menyayangimu, maafkan aku, Dav ..............".
Catatan itu terhenti. Tangisan Davin terdengar. Ia menyesal, bahkan dihari terakhir cinta, Davin tidak ada. Ia terbunuh oleh keegoisannya .
Seberapa besarnya cinta , memang kita tahu saat kita kehilangannya. Dan ketika itu, kita hanya bisa menyesal. Sisihkan waktumu untuk orang yang kamu sayangi. Maafkan ia jika ia membuat mu terluka. Karna sesungguhnya ia tidak ingin melukaimu.
Berilah ia kebahagiaan. Sebelum waktu mengambil semua darimu. Karna waktu tidak akan menunggu mu, untuk kembali dimana kamu ingin memulainya dari awal.
THE END
Ko ceritanya mirip kaya cerita gw yah
ReplyDeletecerita yang kamu buat atau cerita kamu pribadi ?
ReplyDelete